Sabtu, 07 April 2012

Just Do It, The Time Will Never Perfect

Saya suka sekali dengan kalimat ini. Bukan cuma saya, bahkan perusahaan Nike pun menjadikannya slogan. "Just do it, the time will never perfect." Kurang lebih artinya: "Sudah, lakukan  saja, hasilnya kita lihat belakangan."
Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan gambar kambing di atasnya.

Kalimat ini sebenarnya mengajarkan kita untuk nekat. Ya, terkadang kita memang perlu nekat dalam melakukan sebuah rencana. Kalau tidak nekat, rencana kita tak kunjung terlaksana, janji hanya tinggal janji.

Maksud saya bukan nekat dalam arti melakukan sesuatu secara gegabah, tapi memunculkan tekat untuk merealisasikan rencana, dan menyempatkan waktu dan tenaga untuk itu tanpa banyak berpikir ini itu. (Sekali lagi saya menggunakan frase 'menyempatkan diri')

Semua orang pasti memiliki rencana. Namun kita sering menunda-nunda untuk melakukannya.

"Kapan-kapan saja ah, nunggu ada waktu luang."


Tapi kapan kita punya waktu luang? Jika kita hanya menunggu waktu luang untuk melakukan rencana, entah kapan saat tersebut datang. Sebab ketika ada waktu, kita sering terlena untuk melakukan hal lain yang sebenarnya kurang penting. 

(Termasuk ketika akan mengerjakan tugas kuliah, bila terus ditunda maka selamanya kita akan menjadi seorang mahasiswa deadliner).


Hal lain yang membuat rencana kita tidak kunjung terlaksana adalah, kita terlalu sibuk memikirkan kendala kendala yang mungkin akan terjadi kemudian. Padahal halangan-halangan tersebut belum tentu akan terjadi, atau mungkin tidak sesulit yang kita bayangkan.

Just do it! The time will never perfect. Lakukan saja sekarang, pasti nanti ada hasil, entah itu berupa keberhasilan atau pun kegagalan. 

Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.

Salam.

Tentang Foto Kambing di atas

Setiap orang yang berkunjung ke blog saya mungkin akan terpesona dengan gambar kambing di bagian atas halaman ini. Kambing-kambingnya tampak sangat lucu dengan hamparan rumput hijau yang sangat indah. Tetapi, mengapa gambar kambing yang dipasang?

Ceritanya panjang. Tapi saya persingkat saja di sini. Jadi, pada mulanya saya ingin memasang gambar landscape pemandangan alam sebagai header blog saya, sesuai dengan layout halaman yang saya pilih. 

Dan tiba-tiba gambar kambing domba di atas menggoda saya. 

Saya tidak asal pilih (sebenarnya ini cuma pembelaan). Dalam pemilihan gambar kambing ini terdapat filosofi yang dalam.

Siapakah di antara teman-teman yang suka makan sate kambing, atau masakan lain yang berbahan dasar daging kambing? Lezat bukan? Apalagi kambing yang masih muda, empuk sekali, terlepas dari jenis kambingnya, apakah kambing jawa atau kambing domba.

Kambing adalah hewan yang sangat bermanfaat.  Dalam agama Islam, kambing merupakan salah satu hewan yang dapat dijadikan hewan qurban. Jadi, kambing adalah salah satu hewan yang paling dirindukan. Selain daging, susu kambing pun sangat bergizi. Siapa yang meragukan khasiat susu kambing?
Manfaat lain dari hewan ini adalah kulitnya yang banyak dimanfaatkan orang untuk membuat alat musik seperti kendang dan bedug.

Begitulah kurang lebih rahasia pemilihan gambar kambing di atas. Saya ingin agar blog ini menjadi seperti kambing, yang bermanfaat untuk banyak orang.

Mungkin di benak teman-teman muncul pertanyaan susulan, mengapa bentuk fotonya persegi, tidak memanjang seperti header blog-blog lainnya?
Jawabannya sederhana. Saya tidak bisa mengatur ukuran foto tersebut.

Lalu, apa hubungan antara gambar kambing dengan kalimat "Just Do It? Tunggu postingan selanjutnya.

Salam.

Sabtu, 31 Maret 2012

Ayo Belajar Menulis!

Menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Kita bebas mencurahkan apa yang kita pikirkan dan kita rasakan. Menulis kurang lebih sama dengan kita bercerita kepada sahabat kita. Ada semacam kelegaan setelahnya. Tidak peduli apakah ada orang lain yang membacanya atau tidak. Menulis juga kurang lebih sama dengan memotret. Kita bisa mengabadikan setiap kejadian dengan cara kita sendiri. Menulis juga sama dengan melukis. Ada kepuasan batin setelah menyelesaikannya. Menulis juga sama dengan mem-back up data komputer. Kita mungkin tidak bisa mengingat semua kejadian, tetapi dengan menulisnya, memori itu akan tersimpan rapi.

Bahkan menulis juga sama dengan mempersiapkan warisan bagi anak cucu. Dengan menulis, kita bisa mentransfer ilmu untuk generasi berikutnya. Bayangkan seandainya Ibnu Sina, ahli kedokteran modern, tidak menulis buku. Dunia kedokteran tidak akan maju seperti saat ini. Bayangkan pula seandainya Charles Darwin tidak menulis buku kontroversial, The Origin Of Species. Ilmu biologi dan perdebatan teori evolusi tidak akan berkembang seperti saat ini.

Namun terkadang menulis juga sama dengan mengerjakan soal fisika. Kita harus pintar-pintar merangkai kata, sebagaimana kita harus pintar-pintar menggunakan dan mengutak-atik rumus.

Menulis memang menyenangkan. Namun sayang tidak semua orang suka menulis. Mengapa? Mereka bukannya malas atau tidak sempat, melainkan tidak mau meluangkan waktu untuk sekedar mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Ya, meluangkan waktu.
Apa perbedaan antara meluangkan waktu dan menunggu kesempatan?

Pepatah mengatakan, orang pandai akan hilang dari sejarah kecuali dia mau menulis. Seperti Ibnu Sina dan Charles Darwin, ilmuwan yang tetap dikenang berkat tulisannya.

Ayo, belajar menulis!